IKANOBU: JANGAN ANGGAP SEKEDAR AJANG PEMILIHAN !

Image

Judul diatas saya rasa mewakili dari seluruh apa yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini. Abang None Buku, seperti yang kita ketahui adalah ajang pemilihan bagi anak-anak remaja dengan usia mulai 16 hingga 20 tahun yang memiliki minat terhadap perbukuan dan perpustakaan. Tujuan diadakannya pemilihan Abang None Buku ini diharapkan mampu menjadi figure yang dapat memperkenalkan perpustakaan dan juga mengajak serta mencontohkan kepada masyarakat agar meningkatkan minat baca terhadap buku (baik buku konvensional maupun E-book).

Namun, tujuan awal diadakannya Abang None Buku masih jauh dari apa yang diharapkan. Karena, masih banyak peserta yang mengikuti pemilihan ini tidak menunjukkan keseriusan dan bahkan hanya mengejar gelar Abang Buku atau None Buku saja. Minimnya kesadaran dan kapabilitas dari calon-calon duta buku mengakibatkan jauhnya target diadakannnya Abang None Buku ini. saya akui bahwa setiap calon duta buku melampaui prasyarat formal seperti: kemampuan public speaking, bahasa asing, sikap, dan sebagainya. Bahkan ketika ditanya apa program atau akan dibawa kemana IKANOBU seandainya terpilih menjadi Abang atau None Buku kerap memunculkan gagasan-gagasan cemerlang, namun sayangnya, hal ini hanya dijadikan strategi untuk memenangkan kompetisi. Seringkali kita kebingungan langkah awal apa yang dapat kita lakukan di dalam organisasi IKANOBU.

‘we must love reading’, bagaimana kata-kata tersebut dapat tercapai seperti yang menjadi tujuan dari IKANOBU jika para anggota yang notabene sebagai agen itu sendiri tidak mencintai aktivitas membaca? Seringkali ketika sedang berkumpul selalu yang dibicarakan adalah mengenai kelanjutan pemilihan itu sendiri, misal saat ini telah memenangi di tingkat wilayah, lalu bagaimana strategi, kiat, dan gambaran-gambaran agar memenangkan ditingkat selanjutnya. Bukan menyalahkan persiapan tersebut, namun hal ini menunjukkan bahwa mental kita tidak dipersiapkan untuk menyongsong tujuan IKANOBU yang sangat mulia, namun hanya mempersiapkan hal-hal teknis dan yang berbau kompetisi. Padahal terdapat hal yang lebih urgent untuk dibicarakan, yaitu tujuan awal itu sendiri. Kenapa saya bilang urgent? Karena keperluan ini yang perlu kita bicarakan dan kembangkan agar menjadi suatu kebiasaan bahkan suatu budaya.

Lantas bagaimana mempersiapkan yang urgent itu? Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa salah satu kendala dalam IKANOBU adalah minat anggotanya dengan segala yang berbau buku entah itu membaca, diskusi, atau menulis yang masih terbilang minim. Bagaimana kita mau mengajak masyarakat untuk meningkatkan minat membaca jika kita sendiri tidak suka membaca? Dari sinilah kita dapat memperbaiki diri, kita dapat awali dengan “memagari” diri kita dengan buku. Selipkan disetiap obrolan dengan muatan-muatan yang lebih “berbobot”, setelah itu kembangkan dengan diskusi-diskusi yang bersifat keilmuan. Karena hal ini akan menjadi pondasi bagi kita ketika terjun di dalam masyarakat.

Tugas dan hak seorang terpelajar ada tiga: membaca, menulis, dan berorganisasi. Ketiga kata ini secara pribadi saya gunakan sebagai pijakan guna membangun asketisme intelektual. Membaca merupakan langkah awal kita sebagai pelajar untuk ‘menyelidiki’ segala apa yang ada di alam ini. menulis, merupakan instrumen kedua yang sangat penting bagi manusia khususnya pelajar. Seperti yang dinyatakan oleh Pramoedya Ananta Toer yang ia ulangi dari Kartini: menulis adalah bekerja untuk keabadian. Artinya bahwa dengan menulis gagasan-gagasan kita akan tetap hidup meskipun raga kita telah tiada. Lihat Plato, Descartes, juga Pram (sebutan untuk Pramoedya Ananta Toer). Mereka tetap ‘ada’ meskipun bertahun-tahun, bahkan berabad-abad setelah meninggal. Hal itu karena tulisan-tulisan mereka yang kita baca  hingga saat ini, dan tulisan mereka merupakan sumbangan bagi dunia. Berorganisasi, instrumen terakhir yang tidak kalah penting bagi terpelajar, dengan organisasi kita dapat mengaktualisasikan diri, meningkatkan soft skill, dan pada akhirnya berorganisasi adalah tahap awal kita terjun bermasyarakat. Ketiga instrumen ini saling berkaitan  dan menjadi ‘segitiga’ yang sangat penting bagi kita.

Dan IKANOBU merupakan wadah yang tepat untuk mengisi ketiga rumusan diatas. Sebagai organisasi, dan terlebih memang bergerak dibidang perbukuan. Salah satu acuan tingkat kemajuan suatu bangsa adalah dilihat dari Sumber Daya Manusianya, dan kualitas SDM dapat dicirikan dari seberapa besar tingkat minat masyarakatnya membaca buku. Indonesia? Secara kuantitas potensi bangsa Indonesia sangat besar, namun, faktanya bahwa kondisi minat baca di Indonesia berdasarkan UNDP tahun 2010, Human Development Indeks masih sangat rendah, berada di posisi 112 dari 127 negara. Maka saya dapat nyatakan IKANOBU sebagai wadah yang tepat karena dari sini kita mampu menjadi agen yang dapat meningkatkan minat baca masyarakat, meskipun hal ini bukan merupakan cara satu-satunya untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Maka dari itu, secara pribadi saya mengajak kawan-kawan IKANOBU khususnya untuk lebih meningkatkan minat membaca, menulis, dan berorganisasi guna mempersiapkan diri dalam bermasyarakat. Bukan bermaksud menggurui atau kelewat pintar. Namun disini karena saya ingin bersama-sama memajukan IKANOBU sebagai organisasi yang bebas dan independen serta menjalankan tugas sebaik-baiknya yang sesuai dengan tujuannya.

Jangan menganggap Abang None Buku sekedar ajang pemilihan, karena mendapatkan gelar juara jauh lebih mudah daripada tanggung jawab yang harus diemban!

Said Agung Pangestu

Abang Buku Jakarta Timur 2013

7 thoughts on “IKANOBU: JANGAN ANGGAP SEKEDAR AJANG PEMILIHAN !

  1. Setuju bang agung, perjalanan kita untuk mencapai tujuan dari IKANOBU itu sendiri masih jauh. Keseriusan dalam melayani masyarakat juga sangat di perlukan dalam membangun kesadaran masyarakat. Kalau bukan kita yang merangkul mereka, siapa lagi?

  2. sumpahhh..
    thanks banget buat tulisan lo..
    ga banyak anak abnonku yang bisa berpikir kayak lo!!!
    event angkatan gw (2006) yang udah lama berkecimpung di ikatan ini blm bisa berpikir kayak lo..
    nice post.. 🙂
    semoga kita bisa ketemu di DKI
    dan gw harap tulisan ini ga cuma karna moment sesaat..

    Pretty_IKANOBU DKI Jakarta

  3. menulis sudah pasti membaca, membaca belum tentu menulis. seperti konsep media sosial path yg merekam jejak2 kehidupan usernya, menulis juga sbg bukti fisik ide gagasan dan pemikiran penulis dan gak bakal lekang oleh waktu.

    1. Membaca dan menulis merupakan dua hal yg tidak bisa dipisahkan. membaca kurang berguna tanpa dituangkan dalam tulisan -sesuai dgn pemikiran pembaca- sedangkan menulis tanpa suka membaca maka akan terlihat dangkal tulisannya. semoga membantu

  4. Adalah sebuah kesiaan belaka ladang tanpa tani. Mungkin awalnya tersapu gelombang riuh, namun hanya yg berhati besar yg mampu bertahan. Tetaplah bersinergi, berkontribusi, dan biarlah perlakuan yg membayar lunas tuntas ratusan bulir2 pernyataan.

    1. ladang yang bertani pun kerap menghasilkan nilai yang kurang maksimal. perlu keseriusan utk menggarap ladang. niat, ide, serta aksi yang dapat menghasilkan bibit-bibit unggul, utk masyarakat jua ia akan kembali. ditunggu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.