Resensi Buku: Dunia Sophie

Image
warisdjati.blogspot.com

Ini adalah buku filsafat pertama saya, jadi saya tidak memiliki referensi sebelumnya jika ingin mempelajari filsafat, saya mendapatkan buku Dunia Sophie ketika saya bermain ke lapak buku di Taman Ismail Marzuki. Saat berada dihadapan berbagai tumpukan buku, perhatian saya tertuju kepada cover buku ini, dalam benak saya awalnya buku ini adalah buku biasa yang menceritakan dunia remaja yang tidak jauh-jauh dari kisah percintaan. Namun ketika melihat terdapat tulisan novel filsafat, hati saya tergerak untuk membuka buku tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk membawa pulang buku ini setelah membaca pengantar dari Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat, mengajar di Unpar dan ITB, Sekjen International Society for Universal Dialogue) yang mengatakan bahwa betapa menawan dan mengasyikkan kombinasi lintasan sejarah gagasan-gagasan filosofis besar dengan pengalaman petualangan menulusuri misteri perisitiwa-peristiwa kehidupan. Keluguan pertanyaan-pertanyaan anak-anak yang tajam dipadukan dengan kecerdasan jawaban-jawaban dari para filosof besar sepanjang zaman, menyangkut hampir segala bidang kehidupan: dari urusan alam semesta, manusia, pengetahuan, seni, sains, hingga agama. Semuanya dijalin dalam alur cerita yang mengalir wajar, hingga gagasan-gagasan rumit dan mendalam terasa ringan dan masuk akal. Jadi harapan saya saat membaca buku ini adalah mempelajari apa itu filsafat dengan cara yang mudah dicerna dan tidak perlu mengerutkan dahi.

Pelajaran filsafat

Filsafat, sebagai mana namanya terdengar menyeramkan di dalam benak kebanyakan orang. Filsafat dianggap sebagai ilmu yang sukar untuk dipahami karena bahasanya yang rumit atau terlalu tinggi. Namun terdapat juga pendapat bahwa filsafat adalah kegiatan orang yang kurang kerjaan, tidak realistis, ataupun konyol. Dimana ketika orang-orang disibukkan untuk belajar didalam kelas atau bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi uang, filsafat tampak sebagai realitas yang ngawur.

Apalagi jika ditarik kedalam antusiasme agama, filsafat bahkan dilihat sebagai ilmu yang memabawa kekacauan, dianggap sebagai suatu ajaran yang menyimpang karena bahaya tafsir bebas yang mengarah kepada kemurtadan. Dan dengan itu filsafat tidak disarankan untuk dipelajari. hal ini relevan apabila kita melihat kepada konteks pendidikan kita saat ini, sangat sedikit sekali institusi-institusi pendidikan yang mengajarkan filsafat karena mungkin menganggap ajaran filsafat seperti yang saya katakan diatas.

Apakah filsafat itu?

Rizal Mustansyir dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu menjelaskan beberapa pemahaman mengenai filsafat. Filsafat secara etimologis berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philos berarti suka, cinta, atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian, secara sederhana, filsafat dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan.

Ada beberapa definisi filsafat yang telah diklasifikasikan berdasarkan watak dan fungsinya sebagai berikut:

  • Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
  • Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).
  • Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif)
  • Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentrisme.
  • Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.

Filsafat bisa dimengerti dan dilakukan melalui banyak cara, sehingga berlaku prinsip “Variis modis benefit”, dapat berhasil melalui banyak cara yang berbeda. Bertens menengarai ada beberapa gaya berfilsafat. Pertama, berfilsafat yang terkait erat dengan sastra. Artinya, sebuah karya filsafat dipandang melalui nilai-nilai sastra tinggi. Contoh: Sartre tidak hanya dikenal sebagai penulis karya filsafat, tetapi juga seorang penulis novel, drama, scenario film. Bahkan beberapa filsuf pernah meraih hadiah Nobel untuk bidang kesusasteraan.

Kedua, berfilsafat yang dikaitkan dengan social politik. Di sini, filsafat sering dikaitkan dengan praksis politik. Artinya sebuah karya filsafat dipandang memiliki dimensi-dimensi ideologis yang relevan dengan konsep negara. Filsuf yang menjadi primadona dalam gaya berfilsafat semacam ini adalah Karl Marx (1818-1883) yang terkenal dengan ungkapannya: “Para filsuf sampai sekarang hanya menafsirkan dunia. Kini tibalah saatnya untuk mengubah dunia”.

Ketiga, filsafat yang terkait erat dengan metodologi. Artinya para filsuf menaruh perhatian besar terhadap persoalan-persoalan metode ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh Descartes dan Karl Popper. Descartes mengatakan bahwa untuk memperoleh kebenaran yang pasti kita harus mulai meragukan segala sesuatu. Sikap yang demikian itu dinamakan skeptis metodis. Namun pada akhirnya ada satu hal yang tidak dapat kita ragukan, yakni kita yang sedang dalam keadaan ragu-ragu, Cogito Ergo Sum.

Keempat, berfilsafat yang berkaitan dengan kegiatan analisis bahasa. Kelompok ini dinamakan mazhab analitika bahasa dengan tokoh-tokohnya antara lain: G.E Moore, Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, Gilbert Ryle, dan John Langshaw Austin. Corak berfilsafat yang menekankan pada aktivitas analisis bahasa ini dinamakan logosentrisme. Tokoh sentral mazhab ini, Wittgenstein mengatakan bahwa filsafat secara keseluruhan adalah kritik bahasa. Tujuan utama filsafat ini adalah untuk mendapatkan klarifikasi logis tentang pemikiran. Filsafat bukanlah seperangkat doktrin, melainkan suatu kegiatan.

Kelima, berfilsafat yang dikaitkan dengan menghidupkan kembali pemikiran filsafat di masa lampau. Di sini, aktifitas filsafat mengacu pada penguasaan sejarah filsafat. Dalam hal ini, mempelajari filsafat yang dipandang baik adalah dengan mengkaji teks-teks filosofis dari para filsuf terdahulu.

Keenam, masih ada gaya filsafat lain yang cukup mendominasi pemikiran banyak orang, terutama di abad keduapuluh ini yakni berfilsafat dikaitkan dengan filsafat tingkah laku atau etika. Etika dipandang sebagai satu-satunya kegiatan filsafat yang paling nyata, sehingga dinamakan juga praksiologis, bidang ilmu praksis.

Image
nyatanyag.blogspot.com

Cara Bercerita

Kenapa Jostein Gaarder menulis buku filsafat dengan cara bercerita? Gaarder ingin menyajikan filsafat dengan cara yang lebih mudah dipahami, karena ia tahu bahwa saat ini buku-buku filsafat dianggap sulit untuk dipahami mayoritas orang karena bahasanya yang terlampau sulit. Selain itu, Gaarder juga melakukan pendekatan historis dalam menulis bukunya. Metode ini sering dipandang baik bagi pemula. Dalam pendekatan ini, pemikiran para filsuf terpenting dan latar belakang mereka dipelajari secara kronologis.

Lalu mengapa Gaarder memilih anak-anak sebagai tokoh dalam novel ini? karena Gaarder berpendapat bahwa anak-anak adalah filosof, lebih penting mengajari filsafat kepada orang dewasa daripada anak-anak. Pertanyaan filsafat sesungguhnya pertanyaan yang mendasar, dan itu yang sering ditanyakan anak-anak. Pertanyaan seperti: Mengapa awan bergerak? Apa itu surga? seperti pertanyaan sepele bagi orang dewasa, namun orang dewasa sendiri tidak dapat menjelaskan dengan baik kepada anak-anak.

Sebenarnya yang memebuat buku ini menarik ialah karena ada cerita di dalamnya. Mungkin akan sama membosankannya dengan buku-buku lain jika Gaarder tidak melakukan cara seperti ini. Jostein Gaarder memakai tokoh Alberto Knox untuk menceritakan sejarah filsafat kepada sophie. Hal itu sama seperti Sokrates ketika mengajar, ia mengajak berdiskusi dengan orang-orang lain. Dia memulai diskusi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, lalu dalam diskusi itu ia memberikan argumen-argumennya sampai orang lain mengakui kelemahan argumentasi mereka.

Sophie Amundsen seorang gadis berusia 14 tahun pertama kali mendapat sebuah surat yang bertulis siapakah kamu? Dan darimanakah datangnya dunia?, peristiwa-peristiwa selanjutnya adalah Sophie mendapat surat yang panjang dari Alberto knox yang membuka pemikiran Sophie mengenai filsafat. Dan Sophie menunjukkan ketertarikannya dengan menyimpulkan bahwa dia dapat mengikuti semua gagasan dengan menggunakan akal sehatnya sendiri tanpa harus mengingat segala sesuatu yang telah dipelajarinya di sekolah. Filsafat bukanlah sesuatu yang dapat kita pelajari; namun barangkali kita dapat belajar untuk berpikir secara filosofis (h.83).

Selain surat Alberto, Sophie menerima surat dari seorang Mayor yang bernama Albert Knag yang sebenarnya juga ditujukan kepada anaknya, Hilde Moller Knag. Sang Mayor sedang bertugas pada misi PBB di Lebanon. Gaarder menggunakan karakter mayor yang bertugas di misi PBB dari sebuah refleksi filosofi. Saat ini umat manusia sangat tersegmentasi dengan wilayah negara – seperti Norwegia, Eropa, dsb – sebagai identitas. Manusia seolah terlupa dengan latar belakang spiritulitasnya sebagai bagian dari makhluk hidup – yang memandang dunia secara universal. PBB menaungi hal itu, misi perdamaian yang dibawanya lintas bangsa. Bila kita melihat apa yang terjadi di Libanon sekitar tahun 1990-an yaitu menjelang berakhirnya perang Libanon yang memakan waktu 15 tahun (13 April 1975 – 13 Oktober 1990). Perang ini juga memiliki sejarah yang cukup panjang, negara-negara yang bertikai adalah Palestina, Lebanon, Syria, Israel, serta kelompok-kelompok sipil di negara tersebut. Yang menyedihkan adalah di seputaran kawasan tersebut sampai sekarang masih terjadi perang, yang kalau dirunut lebih jauh mereka dulu adalah satu rumpun bangsa. Karena itu salah satu usaha yang mengakui persamaan manusia di seluruh dunia adalah hadirnya misi perdamaian PBB di negara yang sedang berkonflik.

Isi surat yang diterima oleh Sophie adalah sejarah pemikiran umat manusia dari mulai era sebelum Sokrates yang disebut filosof alam hingga abad 21. Lantas apa yang menarik dari pelajaran filsafat di dalam buku ini jika Gaarder hanya melulu membicarakan para tokoh-tokoh filosof dari zaman ke zaman? Pertama, Gaarder memberitahukan sejarah para filsuf dengan pokok pikirannya. Untuk mengetahui tentang Descartes, Marx, Berkeley, Kant, misalnya, kita harus membaca sendiri pemikirannya lewat buku-bukunya. Kedua, penulisan cerita Sophie dan mentornya, Alberto Knox, Gaarder menggambarkan cerita pembelajaran filsafat dengan menarik. Dimulai dengan pertanyaan, kemudian menceritakan bagaimana sudut pandang manusia menjawab pertanyaan tersebut dari zaman ke zaman. Inti pertanyaan tetap sama, yaitu mempertanyakan hal-hal yang sangat mendasar namun pengenalan manusia akan ilmu pengetahuan dan perkembangan ilmu-ilmu lain semakin bertambah menyebabkan pemikiran manusia juga ikut berubah. Ketiga, Gaarder mengenalkan filsafat dengan cara yang lebih ‘membumi’, bersahabat, dan tidak sulit. Pertanyaan pembuka bagi Sophie, “Apakah Filsafat itu?” adalah pintu pertama untuk mengenal filsafat. Lewat surat Alberto pada Sophie, kita dapat mengetahui sedikit tentang sejarah filsafat. Mungkin kita belum sampai pada tahap pemahaman, namun paling tidak kita diperkenalkan dengan cara yang menarik. Barangkali metode Gaarder ini dapat ditiru oleh orang-orang Indonesia untuk mengajarkan nilai-nilai filsafat suku bangsa di Indonesia. Bayangkan betapa kayanya sumber daya kita, dan apakah tradisi bercerita kita mampu mengalihkan kekayaan berpikir ala nusantara itu dari orang-orang tua ke anak-anak muda?

Secara keseluruhan buku yang ditulis oleh Jostein Gaarder ini sangat menarik untuk dibaca, apalagi bagi pemula yang ingin mempelajari filsafat. Selain isi mengenai pelajaran filsafat, Gaarder mengkombinasikan dengan peristiwa-peristiwa misterius yang dialami oleh Sophie Amundsen dengan tujuan agar pembaca bertanya-tanya dan terus terbawa alur cerita dalam buku ini. Dialog yang segar antara Sophie dan Alberto, antara Hilde dan Albert Knag, antara Sophie dan ibunya, antara Sophie dan temannya membawa kita ke dalam pengenalan akan bagaimana sudut pandang pemikiran orang-orang untuk berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis. Metode belajar dengan berdialog dan berdiskusi yang sudah digunakan dua ribu abad lalu masih relevan. Yang membuat saya kagum bagaimana Gaarder meramu semua dialog tersebut.

Buku ini benar-benara mudah dipahami dan terstruktur sangat rapi, ditambah dengan analogi yang brilian. Jika ada ke khawatiran mengenai apakah dengan belajar filsafat dapat membuat remaja menjadi apatis dan atheis, saya rasa buku ini jauh dari kesan itu. Sebaliknya, yang saya alami adalah bahwa pemikiran para filosof dalam buku ini justru membuat saya yakin akan keberadaan Yang Maha Kuasa. Buku ini adalah buku yang benar-benar menjadikan manusia menjadi manusia, karena ia mengajak manusia untuk berpikir dan merenung.

Bukankah yang membedakan manusia dengan binatang hanyalah pada kemampuan mereka untuk berpikir dengan akalnya, dan menggunakan hati nuraninya. Bila manusia tidak lagi menggunakan hati nurani dan tak mau berppikir, lalu apa bedanya ia dengan binatang?

Image

Judul buku       : Dunia Sophie (Gold edition)

Penulis buku    : Jostein Gaarder

Penerbit buku  : Mizan Pustaka

Tahun terbit     : Oktober 2012

Tebal buku      : 800 hlm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.