Manusia dan Ilmu Pengetahuan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai dengan dewasa ini, khususnya dalam hal pemanfaatannya cenderung semakin menyimpang dari arah pencapaian tujuan ilmu pengetahuan, yaitu kesejahteraan hidup di dalam kelestarian alam. Terbukti dalam kenyataan bahwa hanya segelintir orang saja yang telah bisa menikmati segala apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Iptek belum bisa dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia. Bahkan pemanfaatan iptek yang tidak berimbang itu mengakibatkan kerusakan lingkungan alam dan sumberdayanya, karena dikuras secara habis-habisan hanya untuk kepuasan sementara manusia itu tadi.

Krisis alam tersebut tidak lain disebabkan oleh kegiatan pemberdayaan teknologi yang mengabaikan sisi penting dan mendasar dari pada teknologi itu sendiri, yaitu aspek moral. Aspek ini menekankan pada masalah tujuan mengapa ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dikembangkan. Jawabannya adalah dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup dan kehidupan manusia, mengingat pertambahan jumlah penduduk dunia semakin tidak berimbang dengan sumber daya alam yang tersedia. Dengan kata lain, agar kelangsungan kehidupan dunia ini tetap dapat terpelihara dengan baik. Jadi, aspek ini bersangkutan langsung dengan perilaku tanggung jawab terhadap pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi tercapainya tujuan hidup dan kehidupan tadi.

Inilah yang menjadi kontradiktif, disaat ilmu pengetahuan mengalami kemajuan spektakuler, tetapi dari kemajuan itu mengalihkan nilai-nilai yang menyimpang dengan hakikat ilmu pengetahuan. Nilai-nilai ontologis, epistemologis dan khususnya nilai etis, tidak tumbuh di dalam kehidupan manusia dan masyaraktnya. Bahkan kehidupan cenderung menjadi kejam dan eksploitatif serta penuh dengan perilaku kriminal.

Eksistensi Manusia

Bicara mengenai ilmu pengetahuan, tentu tidak terlepas dari manusia. Karena manusia merupakan subjek dari keterkaitannya dengan ilmu pengetahuan. “Manusia tidak lain ialah bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri”, demikian Sartre berujar. Hal ini berarti pula bahwa, bagi Sartre, asas pertama sebagai dasar untuk memahami manusia haruslah mendekatinya sebagai subjektivitas. Manusia sebagai pencipta dirinya sendiri tidak akan pernah selesai dengan ikhtiarnya sendiri.

Manusia adalah makhluk yang unik. Berkat daya psikis cipta, rasa, dan karsanya, manusia bisa tahu bahwa ia mengetahui dan juga ia tahu bahwa ia dalam keadaan tidak mengetahui. Manusia mengenal dunia sekelilingnya dan lebih daripada itu, ia mengenal dirinya senidiri.

Dengan potensi akal pikirannya, manusia mengatasi persoalan kehidupannya secara matematis menurut asas-asas penalaran (logis) deduktif dan induktif. Dengan potensi rasa, manusia mengatasi persoalan kehidupannya, dengan pendekatan estetik menurut asas perimbangan. Dengan potensi karsa, manusia mengatasi persoalan kehidupannya melalui pendekatan perilaku menurut asas-asas etika. Melalui tiga cara inilah manusia menemukan nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebijakan. Ketiganya dipedomani untuk dapat berkehidupan secara bijaksana.

Selanjtunya, manusia mencoba mengarahkan daya cipta, rasa, dan karsanya itu untuk memahami eksistensinya: darimana sesungguhnya segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri berasal mula dan dimana berada serta kemana tujuan kehidupannya. Meskipun manusia mengerti asal mula, keberadaan, dan tujuan kehidupan, tetapi ternyata pengertian ini belum terbukti kebenarannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Manusia tetap saja dalam keberadaannya yang sepenuhnya diliputi tanda tanya (ketidaktahuan). Manusia di dalam eksistensi kehidupannya, bagaikan memahami sebuah buku yang langsung dihadapkan mengenai isinya, tanpa bagian pendahuluan dan kesimpulan yang jelas. Jadi, tugas manusia adalah menyusun sistematika isi bab pendahuluan itu dan memberikan kesimpulan sepasti mungkin berdasarkan fakta-fakta yang tergelar dalam isi buku tersebut. Keadaan seperti itu, bagaikan ‘menangkap seekor kucing hitam di dalam kamar yang gelap gulita’. Manusia hanya bisa meraba-raba dan menduga-duga saja.

Pernyataan itu bisa dijelaskan dengan melihat fakta bahwa manusia tidak pernah tahu secara gamblang tentang darimana ia berasal dan mau kemana ia pergi. Ia hanya sedikit tahu tentang keberadaannya disini ini dan sekarang ini. manusia paham betul atas fakta hidup, tetapi sering begitu bodoh terhadap kehidupannya. Ia mengerti makanan, minuman, pakaian dan sebagainya, tetapi sering itu semua justru menghancurkan kesehatan lahir dan batinnya sendiri. Manusia kerap kali terlibat dan melibatkan diri terhadap hal-hal yang aksidensial, yang menempel dan sekunder, tetapi semakin tidak peduli terhadap hal-hal yang perimer dan substansial.

Berdasarkan kenyataan yang ada pada dirinya, yaitu ada pengetahuan yang pasti mengenai ketidaktahuannya, maka manusia terus-menerus mencari keterangan atas ketidaktahuaannya itu. Dari keterangan-keterangan yang diperoleh, manusia mencoba menyusun suatu sistematika integral dan konsisten sehingga bisa dijadikan suatu pandangan yang sedapat mungkin bisa memperjelas dasar dan tujuan keberadaannya sebagai manusia.

Hakikat Ilmu Pengetahuan

Hakikat bisa dipahami sebagai intisari, bisa pula berupa sifat-sifat umum dari sesuatu. Dalam bahasa inggris kita sering mendapati kata ‘substance’ atau ‘essence’, yang keduanya menunjuk sesuatu “essential nature atau ultimate nature of a thing’. Jadi, bisa pula dipahami sebagai inti dasar atau inti tertinggi sesuatu. A. R. Lacey menjelaskan mengenai substansi yang mengacu kepada Aristoteles, yang pertama adalah ‘primary substance” dan ‘secondary substance’. Substansi primer adalah inti atau diri-pribadi sesuatu, sedangkan substansi sekunder adalah aksidensia, artinya sifat-sifat yang baik secara mutlak ataupun relative melekat pada diri-pribadi sesuatu tersebut.

Sedangkan Suparlan Suhartono dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan menjelaskan bahwa ‘hakikat’ adalah keseluruhan unsur yang secara mutlak bersama-sama menentukan adanya sesuatu barang atau hal sebagaimana diri-pribadinya sendiri, bukan sesuatu barang atau hal yang lain. Pada dasarnya, masalah hakikat dapat dikategorikan menjadi tiga hal, yaitu hakikat jenis (bersifat abstrak), hakikat pribadi (bersifat potensial), dan hakikat individual (bersifat konkret). Oleh karena ilmu pengetahuan tergolong sebagai hal ada, maka ketiga jenis hakikat itu dijadikan landasan pembahasan tentang hakikat ilmu pengetahuan. Pada umumnya, karena karena bersifat abstrak, maka hakikat jenis ilmu pengetahuan masuk dalam pembahasan aspek ontology; karena sifat potensialnya, maka hakikat pribadi ilmu pengetahuan masuk kedalam aspek epistemology; dank arena konkret, maka hakikat individual ilmu pengetahuan dibahas dalam aspek etika.

Ilmu pengetahuan tidaklah Bebas Nilai

Perkembangan dan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi sampai dengan abad ke-21 ini tidak bisa disangkal lagi dan nyata adanya. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana keberhasilan iptek dan industrialisasi yang berpengaruh kuat terhadap sistem perilaku manusia di dalam kehidupan sosial. Saat ini, kehidupan manusia didominasi oleh paham ekonomi kapitalistik. Paham ini mendorong sifat kompetitif pragmatis perilaku manusia, dengan sasaran memperoleh keuntungan material sebanyak mungkin dengan modal sekecil mungkin. Watak teknologi dan perindustrian yang berdaya produktivitas tinggi, berpadu dengan watak keserakahan manusia, sehingga mendorong pola sikap dan perilaku secular hedonistik. Persaingan yang bersifat monopolistik terlegitimasi baik secara formal maupun kultural, sehingga secara dominan mewarnai perilaku manusia sehari-hari. Hal ini juga telah mencemari setiap bidang kehidupan, khususnya bidang pendidikan, kebudayaan, dan spiritual keagamaan.

Kehidupan manusia di dunia sedang menjadi tidak realistik dan cenderung menjadi semu. Untuk mencukupi kebutuhan sekunder, manusia bersedia mmepertaruhkan nilai-nilai substansial, seperti nilai kemanusiaan, kealaman, dan keilahian. Hal ini bersumber dari karsa berupa nafsu manusia untuk menguasai dunia. Kehadiran teknologi dan perindustrian dimanfaatkan secara oportunis, yang mendorong ‘nafsu’ keserakahan dengan menyisihkan moral keadilan.

Bagi manusia modern kapitalistik, iptek dimanfaatkan secara objektif apa adanya, dengan tanpa mempertimbangkan hakikat ontologis dan etis. Mereka memanfaatkan iptek menurut nafsu keserakahan kapitalistik, seolah-olah bebas nilai, dalam artian bebas dipergunakan untuk segala keperluan yang dapat memuaskan. Lihatlah, sebenarnya memproduksi ‘bom atom’ itu pada dasarnya tidak bersalah, tetapi ketika diniatkan untuk menuruti nafsu keserakahan, itu adalah kesalahan besar. Atom adalah kekuatan alam yang seharusnya dimanfaatkan untuk kelangsungan dan kemajuan kehidupan. Sistem teknologi dan perindustrian adalah produksi manusia. Karena itu adil apabila dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi, jika produksi bom atom diniatkan untuk menghancurkan pihak lain menurut filosofi negatif ‘keserakahan’, maka sebenarnya dengan bom atom itu manusia berniat untuk membunuh dirinya sendiri. Bukankah manusia lain adalah bagian integral dari diri sendiri? Jadi, persoalannya adalah pada poin mengapa bom atom itu dibuat. Jika jawabannya berlatar pada suatu kekuasaan untuk kepentingan tertentu oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain, misalnya, maka berarti ilmu pengetahuan, teknologi, dan perindustrian dimanfaatkan secara bebas nilai, dalam arti bebas dimanfaatkan untuk apapun demi kepentingan kekuasaan. Sebaliknya, bagi bangsa lain bebas nilai pemanfaatan iptek seperti itu dinilai sebagai bertentangan dengan nilai ilmiah ontologis dan etis ilmu pengetahuan itu sendiri. Bukankah nilai ilmiah seharusnya dimanfaatkan secara universal bagi siapap pun? Inilah persoalan bebas nilai dan tidak bebas nilai kebenanran ilmu pengetahuan dan teknologi  dilihat dari ‘asas kemanfaatan’. Lantas bagaimana menurut ‘ontologi’ objeknya? Dari segi objeknya sendiri, benarkah ilmu pengetahuan itu bebas nilai?

Jika kita melihat nilai ‘hidrogen’ secara bebas dikurangi (oleh subjek) dari komponen 2 (dua) lalu dipersenyawakan dengan 1 (satu) oksigen, maka tidak akan pernah terjadi persenyawaan membentuk air, harus ada persenyawaan terikat dengan satuan komposisi 2 (dua) bagi unsur hidrogen dan 1 (satu) untuk unsur oksigen. Kenyataan ini membuktikan bahwa air adalah suatu zat yang tidak bebas nilai, karena terikat oleh sistem persenyawaan yang demikian itu. Jadi, dari segi objeknya, ilmu pengetahuan itu bersifat ‘tidak bebas nilai’.

Dari pendekatan itu dapat dilihat bahwa, dalam dirinya sendiri, kebenaran ilmu pengetahuan tidaklah bebas nilai. Artinya terikat oleh komponen dasar pembentukannya, sehingga subjek tidak berkemampuan bebas untuk melakukan penilaian. Selanjutnya ditangan manusia, terlepas dari nilei-nilai objektif ilmu pengetahuan, bisa menjadi bebas nilai. Artinya, tergantung sepenuhnya pada kehendak nmanusia dalam hal peng-arti-an kemanfaatannya. Tetapi, perlu diingat bahwa sikap kehendak seperti itu membahayakan bagi kelangsungan eksistensi  ini.

Dengan demikain, masalah penting tentang sifat bebas nilai atau tidak bebas nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu bukan terletak pada kehendak bebas manusia dalam hal pemanfaatannya, apakah kebenaran ilmu pengetahuan itu untuk suatu kebaikan atau sebaliknya. Karena dari segi inilah diduga banyak penyelewengan makna bebas nilai kebenaran ilmu pengetahuan, yang hanya untuk kepentingan sekelompok manusia tertentu.

Oleh karena itu, masalah sifat bebas nilai atau tidak bebas nilai ilmu pengethauan perlu dikembalikan pada objektivitasnya sendiri. Secara ontologis, pada dasarnya segala sesuatu yang ada ini selalu berada dalam relativitas dan saling terkait antara satu dengan yang lain. Kebebasan dan kehendak bebas hanya ada pada diri ‘yang Maha Ada’ sebagai sumber dari segala sesuatu yang ada ini. Dengan kata lain, keberadaan segala sesuatu yang ada ini terikat oleh asal mula dan tujuan keberadaannya.

Pernyataan klasik yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia barangkali perlu ditinjau kembali. Sebab, hal ini jelas menempatkan manusia pada arti, posisi, dan peran yang begitu sentral di dalam dan pada realitas jagad raya ini. Padahal sebenarnya, fakta membuktikan bahwa keberadaan manusia itu mutlak bergantung pada alam dan sumber dayanya. Tanpa alam dan sumber dayanya, manusia tidak akan mampu mempertahankan keberadaannya. Kiranya, ditinjau dari segi apapun, hal ini adalah benar adanya, karena memnag demikianlah faktanya.

Jadi, ilmu pengetahuan bukan diberdayakan secara bebas nilai, tetapi seharusnya secara etis dimanfaatkan demi kelestarian alam sebagai prasyarat kelangsungan eksistensi manusia. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perindustrian, manusia harus tetap dalam kesadarannya bahwa tugas dan kewajiban pertama dan utamanya adalah menjaga kelangsungan alam. Selanjutnya dengan teknologi, mengembangkan sumber dayanya dengan cara reproduksi berimbang agar tidak habis dikonsumsi baik oleh manusia sendiri maupun oleh makhluk lainnya. dari sini, manusia baru dibenarkan menikmatinya demi kesejahteraan hidupnya. Agar langkah pertama itu dapat dikerjakan, manusia perlu menegakkan kembali paradigma filsafat hidup dari mana asal mulanya, yang pasti akhirnya kembali ke situ pula. Filsafat hidup seperti ini berkonsekuensi menentukan bagi sikap dan perilaku adil dalam eksistensi kehidupan, sehingga pola kehidupan menjadi sederhana sesuai dengan kebutuhan yang realistis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.