PEMBAJAKAN BUKU

Image
sumber: google.com

Banyak yang mengatakan betapa pentingnya arti buku bagi sebuah bangsa, bahwa buku merupakan salah satu unsur terpenting bagi memajukan kehidupan suatu masyarakat. banyak sekali manfaat yang dapat didapatkan dari sebuah buku, namun ironisnya, yang juga menjadi kegusaran saya, masih banyak terdapat buku-buku bajakan yang tersebar luas, termasuk di Indonesia.

Harian kompas (4/4), melaporkan dilemma pembajakan buku, terutama buku ilmu pengetahuan yang dibutuhkan mahasiswa. Mahasiswa membeli buku bajakan karena harganya lebih murah daripada buku asli. Perpustakaan kampus juga tidak mampu menyediakan buku yang dibutuhkan. Penerbit mengalami kerugian finansial. Yang lebih merugi sebetulnya penulis buku, kerja kerasnya tidak dihargai seperti seharusnya.

Pembajakan buku sudah menjadi sebuah kebiasaan di Indonesia, yang dikhawatirkan adalah jika pembajakan buku menjadi budaya, yang artinya sangat tidak penting memandang keaslian sebuah buku, apalagi melihat hal itu sebagai karya seseorang yang patut diapresiasi. namun, disisi lain, perdagangan buku-buku bajakan dilakukan oleh masyarakat kebawah, artinya, orang-orang yang menjajakan buku bajakan melakukan survival atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. disinilah sisi ke-paradoks-an kita rasakan.

Atas alasan apapun, mengambil karya orang lain tanpa izin pemilik bukan perbuatan terpuji, bahkan dapat dikategorikan tindakan kriminal. Pemerintah mencoba mencegah pelanggaran terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Untuk buku, misalnya, ada Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002.

Perlindungan HKI sangat keras di negara maju, dilakukan oleh negara dan komunitas industri serta bisnis. Komunitas bisnis akan mendesak pemerintah mereka melindungi HKI di dalam negeri dan di negara lain.

Dalam banyak perjanjian perdagangan, perlindungan HKI ternmasuk salah satu syarat. Misalnya, kesepakatan perdagangan bebas dalam Trans Pasific Partnership (TPP) yang dimotori Amerika Serikat serta beranggotakan negara Asia Timur dan Pasifik.

Perlindungan tersebut bukan mengada-ada, negara kaya membuktikan, pengembangan iptek dan inovasi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi. Untuk mendorong inovasi dan iptek, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga produknya harus dilindungi dari pembajakan. Mari bercermin pada cara negara lain melindungi HKI sekaligus mendorong tumbuhnya inovasi dan iptek tanpa membebani masyarakat. India dan Tiongkok mendorong rakyatnya membaca, harga buku dibuat sangat murah sehingga warga seperti mendapat insentif saat membeli buku asli. Buku berbahasa asing sekalipun harganya jauh lebih murah di Beijing daripada di Jakarta.

Banyak hal dapat dilakukan pemerintah agar harga buku menjadi lebih murah. mulai dari keringanan pajak untuk memproduksi kertas dan buku serta memperbaiki tata niaga hingga rekayasa sosial agar masyarakat gemar membaca buku asli. Yang terpenting adalah keberpihakan, dan keberpihakan terhadap masyarakatlah yang diperlukan.

Tanpa keberpihakan negara, masyarakat terpaksa akan terus membeli buku bajakan. Inovasi dan pengembangan iptek akan berjalan lambat. Ujungnya, Indonesia sulit bersaing dalam kompetisi global. salam hari buku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.