CERITA DARI JERUJI KENISTAAN

Terdapat suatu masa dimana kegelapan tidak pernah sirna. Kegelapan yang terus menyelimuti jiwa-jiwa resah, jiwa yang hilang arah. manusia-manusia ini, entah kenapa, dipenuhi rasa kebohongan, hari-hari mereka penuh dengan kepalsuan. Mereka tidak pernah sadar – atau tidak mau sadar – bahwa dongengan mereka hanya bualan semata. Senyum, janji, sikap manis, seolah hanya balutan dari kenistaan mereka.

Hari demi hari terlewati, dan tetap saja, mereka menjalaninya dengan kepalsuan. Suatu pagi yang tidak terlalu cerah – hanya awan mendung yang menjadi pelindung – entah karena matahari enggan nampak ditengah-tengah hati yang tercela, mereka membicarakan soal kebenaran. Menurut mereka, kebenaran hanyalah seonggok kata yang terucap sesuai keyakinannya. Kebenaran, cukup mendapatkan persetujuan dari kawanan yang lain, nilainya menjadi relatif. Entah ini kebenaran atau pembenaran, yang jelas mereka meyakini ini sesuatu yang “benar”.

Suatu “kebenaran” satu kelompok bisa menjadi berbeda dengan kelompok lainnya, dan “benar” menurut kelompok lain acap kali menjadi salah dimata kelompok yang lain pula. begitulah mereka, tiap hari, dari waktu ke waktu.

Pada masa ini, kejujuran tidak lagi penting. Kejujuran luntur dengan kenaifan yang terumbar ketiap penjuru. Jujur menjadi mahal. tidakkah mereka menyadari, bahwa kehidupannya hanya merugikan diri mereka sendiri? tidak, mereka tidak sadar, nyatanya mereka cukup puas hidup dengan kepalsuan.

Cinta. ah cinta, produk yang cukup laris memang, tapi entah darimana mereka memahaminya. Cinta hanya dijadikan kata penghubung antara satu dengan yang lain. Banyak sumpah serapah mengatasnamakan cinta. Tidak jarang bahkan cinta menjadi kambing hitam. Ya, kerap kali mereka saling membenci dikarenakan cinta, nyatanya mereka sendiri yang mendefinisikan cinta secara pragmatis, sungguh pedih hati Kahlil Gibran jika hidup pada masa ini, masa yang penuh kegelapan. Padahal, cinta, merupakan nilai yang penuh kesucian. Ia ingin dimengerti sebagai suatu yang tinggi, mahal, dan tidak gampang diumbar.

Masa gelap, pun jiwa-jiwanya. Tidak ada terang yang nampak, entah untuk sementara, atau selamanya, yang nampak pasti yaitu kegelapan untuk waktu yang lama. Pada masa itu, kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Yang ada hanya setiap sesuatu sudah menjadi kenyataan. Kenyataanpun, terkadang samar-samar. Mana yang benar-benar kenyataan, mana yang hanya ilusi belaka. Dan memang, seperti yang dikatakan Einstein, kenyataan adalah ilusi, tidak ada yang benar-benar nyata, semua tersaji manis dengan retorika. Cinta, kejujuran, dan kebenaran, menguap entah kemana.

Pada masa dimana hati dan jiwa dipenuhi dengan kenistaan, semua menjadi bias. tidak ada warna-warni kehidupan, yang muncul hanya hitam abu-abu. Putih menjadi barang yang langka, yang entah harus dicari kemana. Entah bagaimana sinar penerangan akan datang, dan juga entah kapan, semoga secercah harapan akan adanya masa terang tetap ada meski dihati yang kotor sekalipun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.