Membaca Lelaki Harimau, Eka Kurniawan

IMG_9772
foto pribadi

Seisi kampung geger dengan terbunuhnya Anwar Sadat, ia mati secara mengenaskan dengan leher terkoyak-koyak seperti terkaman harimau yang meremukkan leher mangsanya. Kampung itu lebih geger setelah mengetahui Anwar Sadat mati oleh Margio, hal yang nampaknya mustahil dilakukan oleh bocah umur dua puluh tahun, apalagi ia sudah diketahui oleh seisi kampung sebagai pemuda biasa saja, tidak ada bakat begundal dalam dirinya, maupun memiliki dendam kesumat dan harus membunuh Anwar Sadat.

Premis inilah yang terpampang di halaman awal novel yang relatif tipis ini. Nampaknya itulah awal dan akhiri cerita ini. Tapi nyatanya cerita itu tidak selesai sampai disitu saja. Selebihnya saya terpukau dibawa sekonyong-konyong hingga halaman terakhir. Dari sini lah kilas balik cerita itu bermula.

Dikisahkanakan sebuah desa yang memiliki kehidupan tradisional laiknya kehidupan desa lainnya. Hidup sebuah keluarga dibawah garis kemiskinan, sang kepala keluarga (Komar bin Syueb) bekerja sehari-hari sebagai tukang cukur rambut yang biasa mangkal dibawah pohon dekat pasar. Mereka tinggal di rumah bekas gudang kelapa yang dibelinya dengan harga murah dari seorang nenek tua kaya raya. Komar bin Syueb merupakan sosok temperamental yang dengan mudah melampiaskan kekerasannya kepada keluarga, terutama istrinya (Nuraeni). Sungguh kehidupan mereka tidak bahagia.

Margio dan Mameh, kakak-beradik dari Komar dan Nuraeni sering mendapati ibu mereka disiksa oleh sang bapak. Pengalaman pahit ini yang kemudian membuat Margio geram dan memiliki niat untuk membunuh Komar bin Syueb. Meskipun hal itu tak pernah ia lakukan karena Komar bin Syueb keburu mati.

Cerita lain datang dari keluarga Anwar Sadat. Ia adalah seorang seniman jalanan yang beruntung memperistri Kasia, gadis calon bidan dengan warisan tanah hampir separuh desa. Anwar Sadat bagaimanapun pemuda yang tampan, tapi juga berhidung belang. Sering perempuan-perumpan tergoda olehnya. Mereka dikaruniai tiga perempuan dengan paras dan tubuh yang cantik. Si sulung Laila, memiliki paras dan tubuh yang seksi, namun memiliki kenakalan yang diwarisi oleh bapaknya, sehingga pada usia belasan tahun ia sudah didapati hamil dengan pacarnya. Sehingga segera dinikahkan dan menyingkir dari rumah. Serupa dengan si sulung, anak kedua Anwar Sadat dan Kasia, Maesa Dewi, tiba-tiba membawa bayi saat dalam pendidikannya di kota. Anak ketiga mereka nyatanya berbeda dengan kakak-kakaknya, ia meskipun tidak secantik kakak-kakaknya namun memiliki perangai yang kalem dan cerdas, hingga ia melanjutkan pendidikan jenjang universitas di kota. Anak ini adalah Maharani, yang kelak menjadi kekasih Margio.

Margio merupakan seorang anak yang tumbuh dikeluarga miskin dan hidup serba kekuarangan. Meskipun begitu, Margio anak yang baik dan suka membantu. satu-satunya hal yang membuat ia kadang berperangai buruk adalah bahwa kenyataan bapaknya kerap berperilaku kasar terhadap ibu dan adiknya, bahkan ia sendiri.

Kisah mengenai harimau yang hidup di dalam tubuh Margio sendiri saya pikir tidak terlalu penting. Cerita harimau ini hanya mendapat porsi sedikit. Hal ini juga bisa diperdebatkan apakah bentuk harimau itu betul-betul jelmaan seekor harimau atau penggambaran amarah yang membuncah dari seseorang yang sepanjang hidupnya mendapatkan kenyataan pahit (Margio). Saya lebih cenderung memilih yang kedua.

Saya menikmati tiap cerita dalam novel ini. Alur cerita yang gamblang meski dalam kalimat-kalimat yang panjang membuat kisah itu enak dinikmati dan tidak melelahkan. Karakter tokoh-tokohnya juga sangat apik digambarkan oleh Eka, memiliki ciri dan kekhasan yang kental sehingga melekat dalam benak kita.

Sebagai novel campur aduk – saya mengamini klasifikasi yang dibuat Eka sebagai novel psikologi, mitologi, dan metafor politik – Lelaki Harimau mampu bercerita banyak mengenai lanskap masyarakat kita. Inilah yang saya sukai dari karya-karya Eka. Ia mampu memanjakan dengan ramuan narasinya dengan gagasan yang lahir dari keseharian masyarakat kita dan memadukannya dengan humor-humor gelap maupun metafora politik. Misalnya seperti cerita tentang mitologi harimau itu sendiri. Banyak beredar cerita mengenai harimau jadi-jadian yang hidup di desa-desa dan menjadi pelindung bagi si empunya. Lain lagi seperti perilaku Komar bin Syueb yang kerap memaksa Nuraeni untuk melakukan hubungan intim yang lebih tepat dikatakan pemerkosaan itu dapat kita gambarkan seperti hubungan kekuasaan, metafor tentang penguasa yang secara sewenang-wenang mengangkangi masyarakat tanpa ada pilihan.

Lain daripada itu, saya juga merasakan sensasi ngeri dan mencekam ketika membaca Lelaki Harimau. Dari awal kita sudah disuguhi suasana mengerikan ketika secara tiba-tiba desa digemparkan dengan terbunuhnya Anwar Sadat, dengan cara yang tragis. Belum selesai disitu, karena Margio membantah bukan ia yang “sebetulnya” membunuh Anwar Sadat, karena ia mengaku bahwa ada harimau di dalam tubuhnya. Masih ada lagi ketika Komar bin Syueb mati dan dikuburkan di tempat pemakaman umum, namun secara ajaib kuburan itu mengecil beberapa senti seolah bumi menolak si mayit Komar. Penggambaran suasana oleh Eka saya pikir mampu mengolah menjadi mencekam dan kadang membuat bergidik.

Sebagai pencerita, sebagaimana kata Eka mengenai Bruno Schulz dalam jurnalnya adalah seorang penyihir yang mampu mengubah benda-benda menjadi hal yang diinginkannya. Dalam hal ini saya pikir Eka telah melampaui itu. Saya selalu terkesima dengan cara Eka bercerita. Dengan skema realisme-magisnya betul-betul kita dapat merasakan kengerian dan kesedihan sekaligus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.