Kudeta Mekkah: Sejarah Yang Tak Terkuak

Pada tahun 1979, dunia sedang memasuki masa Perang Dingin. Pada waktu itu telah terjadi aksi-aksi ekspansi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk meraih dukungan bagi masing-masing blok. Timur Tengah sebagai entitas penting politik internasional tentu menjadi bagian penerapan kebijakan luar negeri masing-masing negara.

Sebelum terjadinya aksi pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Juhaiman, dua minggu sebelumnya dunia dikejutkan oleh invasi militer yang dilakukan oleh Uni Soviet terhadap Afghanistan. Selain itu, di Iran pada bulan yang sama, terjadi penggulingan rezim Syah oleh sekelompok massa yang dipimpin oleh Ayatollah Khomenei.

Dalam berbagai arus informasi utama baik media maupun literatur-literatur yang ada, tentu kita akan banyak disuguhi oleh sajian mengenai revolusi Iran. Pemberitaan ini santer karena dampak dari aksi massa tersebut telah membawa perubahan fundamental dalam peta politik internasional, khususnya di Timur Tengah. Pecah kongsi antara Iran yang dipimpin oleh Khomenei dengan Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Kudeta Mekah bermula ketika pada 20 November 1979 – waktu itu bertepatan dengan tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam – sekelompok orang yang dipimpin oleh Juhaiman bin Saif al-Utaibi melakukan pengambilalihan Masjidil Haram yang ketika itu sedang berlangsung ibadah haji.

Juhaiman dan kelompoknya merupakan kelompok aliran Wahhabi yang menentang rezim Saud yang dianggap mereka telah membuka kran sekulerisme dan liberalisme. Beberapa kebijakan liberalisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi pada waktu itu adalah: 1. Mencabut undang-undang perbudakan pada tahun 1962. 2. Mentolerir kehadiran kelompok Syiah di area timur Arab. 3. Memperbolehkan pekerja-pekerja kafir asing bekerja di industri (minyak). 4. Masuknya televisi dan memperbolehkan tayangan-tayangan dari Barat. 5. Pendidikan untuk perempuan. 6. Perempuan-perempuan diperbolehkan bekerja di luar rumah.

Trofimov dengan baik menarasikan hasil investigasi jurnalistiknya dengan plot yang mencekam, namun secara jernih menyusun cerita secara gamblang dan mudah dinikmati.

Ia memulai cerita dengan narasi cikal-bakal kelompok Juhaiman, yakni kelompok Ikhwan. Ikhwan merujuk kepada kelompok orang Badui Najd beraliran Wahhabi. Kelompok ini popular pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz – anak dari Muhammad al-Saud yang merupakan murid dari Muhammad bin Abdul Wahhab (pencetus Wahhabi). Ikhwan biasa dilibatkan sebagai pasukan perang oleh Raja Abdul Aziz karena terkenal dengan ketangguhannya dalam medan perang serta kebengisannya terhadap lawan, pamor mereka memuncak ketika berhasil merebut kota Mekkah dan Madinah dari Bani Hasyim dan mendirikan negara Arab Saudi modern. Setelah berhasil mengokohkan kekuasaannya di Jazirah Arab, Raja Abdul Aziz mengembalikan kelompok Ikhwan ke desa-desa mereka. Menurut Trofimov, Juhaiman adalah anak dari salah satu orang penting dari kelompok Ikhwan, yakni Muhammad bin Saif al-Utaibi.

Pada masa pengepungan Mekah terjadi, Arab Saudi sedang dipimpin oleh Raja Khalid bin Abdul Aziz al-Saud dari tahun 1975-1982. Pendahulunya, King Faisal bin Abdul Aziz –  reformis dan modernis – telah menghapuskan perbudakan pada tahun 1962 dan mereformasi di bidang lainnya termasuk kedekatan dengan Barat hingga akhirnya ia dibunuh oleh keponakannya pada tahun 1975. Pada masa kedua orang raja ini, Arab Saudi tengah menikmati hasil awal-awal dari eksplorasi minyak yang dilakukan bersama Amerika Serikat. Namun disisi lain tumbuh sentimen negatif dari kelompok konservatif yang tidak menginginkan hubungan Arab Saudi dengan Barat.

Salah satu tokoh konservatif berpengaruh adalah Abdul Aziz bin Baz, ia merupakan seorang ulama Wahhabi terkenal dan pada tahun-tahun berikutnya menjadi Grand Mufti. Ibn Baz merupakan tokoh yang berdasarkan dokumen Trofimov telah menyebarkan gagasan-gagasan radikal kepada masyarakat Arab Saudi, termasuk kelompok Juhaiman.

Pada waktu itu, muncul sebuah isu mengenai munculnya Imam Mahdi. Desas-desus mengenai Imam Mahdi merupakan mimpi ambisius Juhaiman dan orang-orang terdekatnya mengenai konsep juru selamat umat muslim. Menurut ilmu-ilmu yang dipelajari oleh Juhaiman, Imam Mahdi akan muncul untuk memerintah dunia islam dan mendirikan masyarakat ideal setelah melawan kekuatan jahat. Bahkan Juhaiman pada tahun 1978 menyebarkan tulisan yang ia sebut dengan “Tujuh Risalah”, dicetak secara sembunyi-sembunyi di Yaman Selatan. Tulisan ini yang kemudian menjadi pedoman bagi Juhaiman dan kelompoknya.

Untuk meyakinkan publik mengenai kemunculan Mahdi, Juhaiman tentu memerlukan seorang tokoh. Lantas ia menunjuk Muhammad Abdullah al-Qahtani – pemuda berusia sekitar 20 tahun – sebagai sosok Mahdi. Penunjukkan ini berkat pandangan Juhaiman bahwa Muhammad Abdullah menyerupai dengan Nabi Muhammad – namanya terdapat Muhammad, secara fisik Muhammad Abdullah memiliki kemiripan tanda dengan nabi, Muhammad Abdullah dari suku yang sama dengan nabi, dan yang paling meyakinkan bagi kelompok Juhaiman adalah bahwa mayoritas dari mereka telah memimpikan Muhammad Abdullah berdiri disamping Kakbah dan menerima baiat sebagai Imam Mahdi diantara kerumunan massa kaum beriman.

Setelah agenda agitasi mengenai Imam Mahdi berhasil mendapat simpati masyarakat, Juhaiman mulai membuat siasat untuk masuk ke dalam pelataran Masjidil Haram. Pada tanggal 20 November, bertepatan dengan tahun baru islam, Juhaiman menetapkan sebagai tanggal baiat terhadap Muhammad Abdullah sebagai Imam Mahdi, sekaligus hari dimana pendudukan Masjidil Haram dimulai.

Pada saat hari yang dinantikan tiba, Juhaiman muncul dikerumanan jamaah haji dan mengambil alih mikrofon dari tangan Nasir ibn Rasyid (ulama yang bertugas di kota suci Mekah) dan mengumumkan Imam Mahdi telah tiba, seraya memperkenalkan Muhammad Abdullah.

Pengambil alihan ini terjadi secara dramatis. Jamaah yang panik merasa bingung dengan isi kebenaran tersebut. Pasukan Juhaiman mulai mengambil posisi, dengan korban pertama yakni dua orang penjaga keamanan Masjidil Haram.

Aksi ini tentu membawa kepanikan bagi kerajaan Saudi. Mereka merasa kecolongan dan belum siap dengan tindakan pemberontak tersebut, apalagi pada saat itu para petinggi kerajaan sedang berada di luar negeri.

Di luar Arab Saudi, isu pendudukan Masjidil Haram mendapatkan respon beragam. Bagi negara-negara muslim, mereka mengecam aksi tersebut. Menurut Trofimov, Iran, yang waktu itu baru saja melakukan revolusi, menganggap aksi itu didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel, sentimen tanpa bukti yang kuat tersebut disiarkan di publik dan terdengar oleh negara-negara muslim lainnya.

Amerika Serikat, merespon ekspansi kota Mekah dengan siaga dan cemas. Presiden Jimmy Carter memerintahkan kedutaan-kedutaan di Timur Tengah untuk bersiap diri dan segera membersihkan data-data penting kedutaan. Carter mencium akan terjadi turbulensi politik akibat dari pemberontakan Mekkah dan sentimen yang didengungkan oleh Iran.

Hal ini terbutkti, beberapa kedutaan Amerika Serikat mendapat protes. Dimulai dari Iran, ketika beberapa warga AS dan pegawai kedutaan disekap. Lalu Pakistan, yang mendapatkan demonstrasi besar, bahkan kedutaan AS dibakar. Demonstrasi ini berlanjut sampai ke Mesir hingga Turki.

Arab Saudi sendiri nampaknya kesulitan membendung para pemberontak, hingga akhirnya kerajaan meminta bantuan Perancis melalui GIGN (Group d’Intervention de la Gendermarie Nationale) unit khusus kontra-terorisme.

Pada saat perang antara pihak Arab Saudi dengan pemberontak berlangsung, orang yang dikultus sebagai Imam Mahdi tewas. Namun Juhaiman meyakinkan kelompoknya agar tetap melanjutkan perlawanan. Hingga akhirnya Juhaiman dan kelompoknya terdesak hingga ke Qabu, ruang bawah tanah yang ada di Masjidil Haram. Qabu menjadi benteng terakhir kelompok Juhaiman.

Di tempat lain, Arab Saudi mendapati kerusuhan baru. Di bagian timur, tepatnya di Qatif, terjadi bentrokan antara kaum Syiah dengan pasukan keamanan pemerintah Arab Saudi. Namun pihak kerajaan dengan segera meredam aksi tersebut dengan tembakan. Pemerintah Arab Saudi membungkam semua berita kekacauan yang terjadi di Mekah dan Qatif. Mereka malah berupaya memberikan kesan positif dengan menyampaikan ucapan selamat kepada Ayatollah Khomenei atas kemenangannya terhadap rezim Reza Pahlevi. Usaha penyembunyian fakta yang selama ini berkembang di media.

Pada akhirnya, kelompok Juhaiman berhasil dilumpuhkan setelah konflik berlangsung selama 14 hari. Juhaiman dan puluhan angotanya yang selamat dieksekusi di delapan kota berbeda pada Januari 1980.

Setelah kejadian berdarah itu, pemerintah Arab Saudi mulai mengetatkan sejumlah kebijakan, termasuk membatasi aktifitas perempuan di luar rumah. Hal ini berbuah pemecatan masal pekerja-pekerja perempuan.

Amerika Serikat sejak berakhirnya pemberontakan Mekah mulai mengubah kebijakan politik luar negerinya. Melalui penasihat keamanannya Zbigniew Brzezinski, Presiden Carter memperkenalkan kebijakan baru yang dikenal dengan Doctrine Carter. Doktrin ini lebih agresif dalam merespon kepentingan AS di luar negeri. Termasuk perannya di Timur Tengah. Contohnya adalah AS mulai membangun negosiasi dengan Oman untuk membangun pangkalan militer dan mendanai kelompok pemberontak di Afghanistan untuk melawan Uni Soviet.

Kerajaan Arab Saudi atas saran Grand Mufti Ibn Baz mengeluarkan kebijakan baru, yakni pendanaan bagi sekoloah-sekolah dan universitas Wahhabi, jangkaunnya mengglobal. Arab Saudi menganggap bahwa mereka tidak akan bisa menancapkan pengaruhnya dalam perpolitikan internasional tanpa menggelontorkan dana ke kantong-kantong yang selama ini mereka sokong.

Apa yang ditulis Yaroslav Trofimov bukan hanya menguak tabir yang selama ini ditutupi, namun lebih jauh dari itu, Trofimov berusaha untuk menyusuri akar dari kelompok-kelompok teroris semacam Al-Qaeda. Trofimov dengan baik merekonstruksi fenomena-fenomena yang terjadi pada tahun 1979 menjadi jelas dan saling terhubung.

Secara eksplisit Trofimov menyimpulkan bahwa gerakan-gerakan teroris semacam Al-Qaeda mendapat inspirasi dari kelompok Juhaiman. Osama bin Laden pada 1980, selepas aksi Juhaiman terjadi, bergabung bersama kelompok bersenjata di Afghanistan dan selanjutnya mendirikan Al-Qaeda.

Buku ini menurut saya merupakan karya yang sangat luar biasa dari seorang koresponden Wall Street Journal. Ia mendedikasikan diri selama bertahun-tahun terbang ke berbagai negara untuk mendapatkan data-data, termasuk sumber pertama dan data-data rahasia. Informasi mengenai pengalaman ini bisa dilihat di halaman-halaman terakhir.

Buku ini diceritakan dengan gamblang dan mengalir mengenai “the first jihad operation of modern times”. Membaca karya ini seperti membaca sajian thriller non-fiksi.

Penulusuran Trofimov ini sekali lagi berusaha menyatakan bahwa pada tahun 1979 bukan hanya revolusi Iran dan ekspansi Uni Soviet ke Afghanistan saja yang terjadi, tapi ada hal lain yang tak kalah penting, yakni dinodainya kota suci Mekah dengan aksi berdarah yang dilakukan oleh sekolompok orang atas nama Islam “murni”. Dan Trofimov memperlihatkan keterlibatan Barat (Perancis dan AS) dalam peristiwa ini.

Bagi saya, membaca karya Yaroslav Trofimov merupakan sebuah informasi sangat berharga dan menjadi pintu lain untuk memahami peta politik-keamanan yang terjadi di Timur Tengah.

 

 



Keterangan Buku

IMG_9820.JPGJudul: Kudeta Mekkah: Sejarah Yang Tak Terkuak

Judul asli: The Siege of Mecca: The Forgotten Uprising in Islam’s Holiest Shrine and the Birth of al-Qaeda (2007)

Penulis: Yaroslav Trofimov

Penerbit: Pustaka Alvabet

Cetakan: Maret 2017

Tebal: 350 hlm. 15 x 23 cm

ISBN: 978-602-6577-02-3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.