Aku Adalah Aku Sekaligus Bukan Aku

Split
Split (2016)

Saat pikiranku sedang keruh, aku kerap mengeluh tanpa menghasilkan solusi. Seperti benang-benang kusut berserakan di sepetak kontrakan yang jarang dibersihkan. Aku tidak bisa berpikir secara jernih. Mungkin kalian pernah mengalami seperti yang aku rasakan, tapi aku tidak yakin benar. Jika kalian dilanda perasaan gelisah, mumet, merasa tahu penyebabnya tapi tidak tahu bagaiamana menjabarkannya. Pernah kan kalian mengalami seperti itu?

Jika pikiran-pikiran seperti itu muncul, aku kadang bingung harus bagaimana. Seperti ada yang berontak dalam otak tapi tidak bisa dikeluarkan, rasanya otak tersumbat oleh sesuatu yang sangat besar. Aku coba untuk mengatupkan mata, berpikir santai, tapi pikiran malah menjadi-jadi. Ia mendesak-desak mencari jalan keluar.

Mungkin aku akan bercerita untuk melegakan pikiranku. Tapi aku harap kamu tidak percaya dengan cerita yang datang dari mulut orang setengah putus asa ini. Cerita ini aku dengar dari orang yang waktu itu bertemu tanpa sengaja. Dia tiba-tiba nyerocos dengan dahi berkerut-kerut. Waktu itu aku menduga ia sedang mengalami sebuah kesialan. Aku sendiri agak lupa bagaimana detilnya. Tapi biarlah, akan aku ceritakan dengan sedikit potongan-potongan yang aku karang sendiri.

***

Suara orang-orang bercengkrama memenuhi ruangan itu. Pelayan hilir-mudik membawakan pesanan dari meja ke meja. Seperti gerombolan siswa yang sedang melaksanakan study tour di sebuah museum, orang-orang memenuhi ruangan yang meski terlihat nampak sesak, tapi memberikan kesan rapih dan menawan. Meja-kursi yang terbuat dari pohon oak berwarna kecokelatan dikurasi dengan baik, dengan sentuhan dekorasi modifikasi kaca menjadikan ruangan itu terlihat tidak sempit.

Aku masuk ke ruangan kafe itu. Aku sudah memiliki janji untuk bertemu dengan beberapa temanku di tempat ini. Sudah lama aku tidak bertemu dengan teman-temanku ini.

Aku bekerja disebuah perusahaan jasa tidak ternama. Perusahaan ini baru berkiprah seumur jagung, pemiliknya orang Korea. Aku terpaksa kerja di tempat ini karena tekanan massa, maksudku sosial, terutama dari keluargaku. Aku sudah mengatakan kepada mereka agar bersabar sedikit untuk menunggu ‘kerja’ yang sesuai dengan minatku. Tapi mereka tidak peduli, bagi mereka yang penting kerja, kerja, kerja.

Satu per satu temanku datang. Yang pertama datang adalah Resti, ia datang dengan mengumbar senyum dan dandanan yang baru di-touch up. Resti bekerja di bank yang berada di seberang kafe ini. Kemudian disusul Santi, ia dengan santai menuju meja kami, diikuti oleh pandangan mata mesum dari sorot para lelaki. Maklum saja, Santi memiliki tubuh sintal dengan payudara yang kencang. Terlebih ia memakai blouse yang cukup ketat tanpa mengenakan blazer. Yang terakhir datang adalah Mia, ia telat datang karena kantornya berada paling jauh diantara kami. Ia juga harus menembus kemacetan kota yang semakin tak masuk akal.

“Wedhus teles!” Mia memaki setibanya di meja kami. Makian khasnya keluar, meskipun ia sudah cukup lama tinggal di Jakarta, tapi gaya itu tetap melekat padanya. Sepertinya Mia sudah mematri kata-kata itu dalam pikirannya.

Kami mulai mengobrol sambil memesan menu yang sedari tadi sudah ada di meja. Di luar cahaya merah kesumba jatuh di gedung-gedung dan kendaraan baris-berbaris tanpa melakukan gerakan berarti. Orang-orang di luar meja kami masih dengan kesibukannya sendiri, beberapa pandang mata ada yang tertuju pada kami, pandangan mata mesum yang lapar dengan selangkangan.

Sebetulnya aku enggan melakukan pertemuan macam ini. Aku lebih senang menyendiri di sudut taman dekat kantorku. Biasanya aku menghabiskan sore hari di sana dengan membaca buku-buku yang aku bawa. Entah kenapa menyelami cerita-cerita di sebuah buku adalah tempat yang pas ditengah keriuhan kota. Tapi hari ini aku terpaksa menyanggupi ajakan teman-temanku.

Salah satu yang menyebabkan aku enggan untuk berkumpul dengan teman-temanku adalah sifat rumpi itu sendiri. Menurutku itu adalah kegiatan omong-kosong. Kita tanpa sadar melepaskan obrolan-obrolan yang tidak penting, tawa-tawa tanpa makna.

Aku tidak tahu kenapa orang-orang saat ini begitu aneh. Mereka terjebak dalam berita-berita yang ada. Dalam satu waktu mereka bisa tertawa dan sedih sekaligus. Entah apakah mereka memiliki intensi yang serius dalam suatu pemberitaan. Mereka sering merasa memahami masalah orang lain, seolah-olah mereka sendiri mengalami masalah itu. Tapi disisi lain, saat bersamaan mereka dengan cepat melupakan persoalan itu. Ketika mengaku bersedih atas penderitaan orang lain, tapi mereka juga senang menertawakannya. Aku rasa mereka mengidap penyakit sosial yang menimpa masyarakat kekinian.

Contoh yang jelas sedang terjadi saat ini dihadapanku. Teman-temanku sudah asyik dengan obrolan-obrolan mereka, mulai dari kejadian hari ini di kantor masing-masing, gosip artis, hingga parodi politik. Sedangkan aku lebih banyak diam, aku sama sekali tidak tertarik dengan obrolan itu.

Pembicaraan kami, atau lebih tepatnya mereka, berhenti pada sebuah postingan di media sosial tentang berita pemerkosaan yang dialami gadis berusia 17 tahun. Yang mengejutkanku dan teman-temanku adalah gadis ini diperkosa oleh anjing buduk. Aku sih pernah mendengar tentang berita pemerkosaan dilakukan oleh binatang-binatang bermata jalang. Tatapan pemerkosa ini memancarkan hasrat yang sangat liar dan menjijikkan. Aku sendiri mau muntah melihatnya.

“Kasihan ya dia.” Kata temanku Santi.

“Iya. Pasti masa depannya suram.” Mila menimpali dengan nada sok tahu.

“Sekarang ini pemerkosaan sering terjadi, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka. Tapi bodohnya perempuan yang kerap disalahkan.” Resti menambahkan dengan rokok masih tersumpal di sudut bibirnya.

Sementara teman-temanku masih berceloteh tentang kejadian itu, aku hanya memperhatikan mereka. Aku enggan menimpali obrolan itu karena sedang merasakan perutku yang melilit akibat ‘datang bulan’ hari pertama. Bangsat, pkirku. Kadang aku berpikir hidup ini tidak adil.

Sudah puas mengomentari foto pemerkosaan, teman-temanku kembali bergosip dengan topik lainnya. Hal itu terus berganti-ganti topik dari a hingga z lalu kembali ke c dan berputar ke l. Gosip tidak berhenti.

Secepat itu teman-temanku melupakan berita pemerkosaan yang tadi menjadi ladang simpati diawal. Sekarang terpuruk di dasar otak. Tertumpuk oleh cerita-cerita lain yang keluar dari mulut mereka.

Aku suka berpikir apakah simpati semacam itu memang benar-benar nyata? Atau itu hanya ilusi mata dan pikiran seolah-olah kita sedih merasakannya. Aku berpikir apakah teman-temanku itu kadang berpikir sama seperti yang aku pikirkan? tidakkah itu aneh?

Tiba-tiba pikiranku melayang kepada seorang bocah gelandangan yang tadi pagi mengais-ngais tempat sampah, dan aku melihatnya dengan prihatin. Kini aku sudah ada di kafe mewah bersama teman-temanku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.