Semua Untuk Hindia – Iksaka Banu

 

 

40195797
photo from Goodreads

Bagaimana kita mengenang masa lalu? Kenangan kerap hadir dalam bentuknya yang samar-samar dan hitam putih. Nampaknya hal itu yang ingin didobrak oleh Iksaka Banu, dalam upaya meramu kenangan dengan lanskap yang utuh dan lebih berwarna dalam kumpulan cerpennya ini. Iksaka Banu tampil sebagai pencerita yang mahir dalam merumuskan sejarah yang seringkali muncul hitam putih dan membosankan. Banu mengambil sejumlah babak dalam pra-Indonesia kita, yang diceritakan selama ini penuh penindasan dan kronik kalah-menang. 

Tidak ada masyarakat di dunia yang memiliki pengetahuan atau kesadaran sejarah sepenuhnya, dalam pengertian pemahaman secara lengkap, rinci dan secara faktual tepat atas peristiwa-peristiwa terpenting dalam beberapa generasi pendahulunya. Setiap peristiwa terlalu rumit dan kaya untuk direkam dan disusun dalam kata-kata, bahkan dengan bantuan gambar dan gambar-bergerak. Tidak bisa tidak sejarah dituturkan dan dimasyarakatkan dalam pola yang berbatas, berpihak, dan terfokus pada hal-hal tertentu, dengan mengorbankan sedikit atau banyak hal-hal lain yang dianggap kurang atau tidak penting oleh elit yang sedang berkuasa pada masa penulisan sejarah itu. Dengan demikian, sejarah tidak secara mutlak berbeda dari penuturan cerita dalam ragam yang lain, entah itu warta-berita, laporan penelitian, atau sastra fiksi.

Kumpulan cerita ini terhimpun dalam 13 kisah yang merentang dari masa pra kedatangan Cornelis de Houtman hingga awal Indonesia merdeka. Masing-masing diceritakan dari sudut pandang tokoh-tokoh utamanya yang beragam seperti  wartawan perang, polisi, tentara, pastor, administratur perkebunan tembakau, dokter tentara, hingga seorang Nyai.

Iksaka Banu menampilkan cerita-cerita yang selama ini mungkin luput dalam penglihatan kita akan sejarah Indonesia. Ia dengan cergas dan objektif menjembatani tali-tali yang tak kasat dalam teks-teks sejarah kolonial. Meski buku ini adalah cerita fiktif, namun nilai kebenaran sejarahnya saya rasa dapat dipertanggungjawabkan, meminjam istilah Nirwan Dewanto, Iksaka Banu dalam hal ini berlaku ilmiah.

Buku ini menjadi menarik karena selain menampilkan cerita sejarah yang lain (baca: alternatif), juga menegaskan kompleksitas pada setiap karakter tokoh-tokohnya. Misalnya pada cerita Selamat Tinggal Hindia, Banu menyajikan sebuah cerita tentang Aku sebagai wartawan De Telegraaf yang menyaksikan perempuan Belanda tampil sebagai sosok pro kemerdekaan, dan dicap sebagai pengkhianat bagi bangsanya sendiri. 

Beberapa momen historis dalam perjalanan sejarah bangsa dapat ditemui sebagai latar dalam cerita-cerita yang ada di buku ini. Beberapa malah jadi bagian inheren dalam cerita seperti pengasingan Pangeran Diponegoro setelah ‘tertangkap’ di Pollux, pembantaian warga Tionghoa di Batavia di Mawar di Kanal Macan, Perang Puputan  di Semua Untuk Hindia, hingga pemberontakan rakyat Banten di Tangan Ratu Adil. Namun, tidak semua tulisan di sini berangkat dari suatu peristiwa sejarah spesifik. Banyak juga yang terlepas dari kaitan suatu peristiwa historis seperti Racun Untuk Tuan, Gudang Nomor 012B, dan Keringat Dan Susu. Meskipun demikian, semuanya punya ciri yang sama: mampu berkisah dengan apik, meski singkat, tentang kondisi masyarakat pada masa itu dan fokusnya yang konsisten terhadap sisi humanis si tokoh utama, baik orang Belanda tulen maupun Indo-Peranakan.

Bagi saya, setidaknya ada dua hal yang patut diapresiasi dari buku karangan Iksaka Banu ini. Yang pertama, Banu tidak berusaha memaksa pembaca untuk memamah pengetahun baru, dalam hal ini adalah sejarah kolonial. Ia lolos dari jeratan dari cerita fiksi yang berpretensi sastrawi, menganggap dengan memberikan banyak informasi mengenai topik tertentu akan meningkatkan kualitas tulisan. Di sini lah kekuatan cerita iksaka Banu, ceritanya begitu halus tanpa pretensius. Yang kedua, penutup cerita yang memiliki rona khas tersendiri. Banu berhasil meyakinkan saya bahwa cerita selesai pada titik tertentu, sisasnya terserah saya. Model berkisah seperti ini saya rasa sangat mendewasakan pembaca, karena sebagai sidang pembaca, dianggap cukup rasional untuk menentukan kelanjutan cerita sesuai dalam benak masing-masing dan tidak merengek untuk meminta penulis berpangjang-panjang menghibur pembaca.

Yang kurang dalam buku ini mungkin karena saya menyadari bahwa cerita terlalu ringkas, saya membayangkan ada cerita sebelum dan sesudah dari cerita-cerita tersebut. Barangkali apabila cerita tersebut dijadikan novel akan lebih asyik. Meski saya sadar tidak semua dari 13 cerita tersebut memiliki potensi untuk dijadikan novel.

Semua Untuk Hindia adalah pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award) 2014 untuk kategori prosa. Saya merekomendasikan bagi siapa saja yang ingin membaca karya fiksi segar sekaligus ingin melihat sejarah dalam angle yang lain. Namun tidak perlu khawatir, meskipun melihat sejarah dalam bentuk yang lain, penyajiannya cukup sederhana tanpa kiasan-kiasan fantastis yang lazim dalam prosa realisme-magis. Banu tetap bertutur secara lempang dan tanpa distorsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.