Sekali Peristiwa di Banten Selatan – Pramoedya Ananta Toer

1533397.Sekali_Peristiwa_di_Banten_Selatan.jpg

“Dimana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu Benar; Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.”

Novel “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” adalah karya Pramoedya Ananta Toer yang sangat sederhana, tidak seperti karya Pram lainnya yang bersifat kontemplatif. Dengan kesederhanannya, “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” dapat dengan mudah dipahami pesan yang diceritakan oleh Pram. Novel ini berbicara tentang perjuangan kaum tertindas di Banten dan di Indonesia secara umum. Melalui Ranta, Pram menceritakan kisah kaum kecil dengan segala keterbatasannya dan ketertindasan yang dilakukan oleh tuan tanah dan pembesar. Ranta dan keluarganya yang buta huruf dan hidup dalam garis kemiskinan dipaksa untuk mengikuti segala kehendak para pembesar. Juragan Musa, sebagai orang berduit dan cukup berpengaruh di wilayah itu dengan semena-mena memperlakukan orang seperti Ranta dan yang lainnya tanpa hati nurani. Ia memanfaatkan tenaga Ranta untuk melakukan kepentingan Juragan Musa tanpa imbalan yang setimpal. Watak kolonial masih melekat di benak orang-orang yang secara struktural mendapatkan keuntungan setelah Indonesia merdeka. Penghisapan sesama saudara sebangsa menjelaskan itu.

Sekilas, novel ini nampak seperti naskah panggung. Percakapannya ditulis tanpa tanda kutip, banyak tokoh yang tidak disebutkan namanya (hanya disebut jabatannya seperti Pak Lurah, Komandan, dan Nyonya serta untuk orang yang tidak memiliki jabatan disebut orang yang pertama dan orang yang kedua), dan latar tempat yang tidak digambarkan seperti novel kebanyakan. Bila membaca sampai selesai, kita tau buku ini terdiri dari 4 babak dimana latar tempatnya pada bab 1 adalah teras rumah Ranta, bab 2 adalah ruang tamu rumah Juragan Musa, bab 3 masih di ruang tamu rumah Juragan Musa tapi di waktu yang lain, dan bab 4 adalah sebuah halaman sekolah rakyat yang baru dibangun. Pram sendiri dalam kata pengantarnya mengatakan, “cerita yang kutulis sekali ini merupakan cerita bacaan. Tetapi di samping itu dapat pula dipentaskan di panggung.”

Buku ini terlampau sederhana dari sisi cerita, karakter-karakter dalam cerita ini pun minim eksplorasi. Namun tetap kita bisa menangkap kesan yang kuat dalam penggambaran masing-masing tokoh. Yang menarik dari penceritaan Pram dalam buku ini adalah alur yang lurus seolah kita dibawa secara langsung pada inti cerita mengenai penindasan manusia oleh manusia lainnya, exploitation de l’homme par l’homme.

Memang jika kita bicara soal Banten, baik dulu ataupun sekarang, rasanya tidak ada perubahan yang berarti. Jika diperhatikan kehidupan rakyat Banten masih cukup tertinggal dibanding dengan wilayah tetangga seperti Jawa Barat atau DKI Jakarta. Lihat saja kondisi geografis, ekologis, maupun tata ruang kotanya. Padahal Banten adalah provinsi yang cukup kaya secara sumber daya dan potensi ekonomi menjanjikan. Korupsi dan pengabaian dalam hal ini penindasan secara langsung terhadap masyarakat Banten menjadi keladi yang menghambat pertumbuhan Banten. Elit politik lokal yang koruptif masih menjadi model hingga kini, sama seperti yang diceritakan Pram dalam buku ini.

Dari buku ini kita bisa lihat dengan jelas pola masyarakat masa itu seperti apa, buku ini diilhami kisah tahun 1957, kita dapat membayangkan dan merasakan, mungkin tidak mendalam tapi secara kasar kita bisa menilai. Kisah kemiskinan dalam “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” dibalut dengan pemberontakan yang dilakukan oleh darul Islam yang pada masa 1950an sedang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Namun semua berubah ketika Ranta sadar bahwa dirinya tidak bisa terus menerus tunduk terhadap ketidakadilan. Ia melawan Juragan Musa dengan berkolaborasi bersama tentara wilayah setempat.

Novel ini merupakan hasil reportase singkat Pramoedya Ananta Toer di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka diisap sedemikian rupa. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang memiskinkan.

Pram pada 1957 sempat mengunjungi Banten daerah selatan. Di sana ia melihat penindasan yang terjadi terhadap masyarakat kecil. Melalui tokohnya Ranta, Pram menceritakan bagaimana masyarakat kecil akrab dengan kemiskinan dan penindasan. Mereka yang bodoh secara struktural, dieksploitasi oleh kepentingan-kepentingan para tuan tanah dan pembesar tanpa melihat sisi kemanusiaan. Ranta adalah tipikal masyarakat umum yang ada di Indonesia pasca merdeka.

Judul Buku: Sekali Peristiwa di Banten Selatan

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Jumlah Halaman: 126

Penerbit: Lentera Dipantara

Edisi: Juni 2006

Terbit pertama kali pada tahun 1958

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.